BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Minggu, 24 Mei 2009

Save Our Precious World

Pada tanggal 5 Mei 2009, untuk menampung minat para siswa terhadap dunia satwa, diadakan kunjungan bersama ke Taman Safari. Acara yang diprakarsai dan disponsori oleh BSC ini berhasil mencuri hati siwa-siswi Sinlui. Terbukti, di tengah keterbatasan waktu promosi, jumlah peserta justru membeludak. Terpaksa, para panitia kerepotan untuk menambah sarana transportasi dan mengatur acara.



Jam 6 pagi, saat matahari baru tampak, para peserta telah berkumpul. Setelah diabsen, mereka boleh masuk bus secara tertib. Di dalam bus, antusiasme para peserta sangat besar. Mereka tidak sabar untuk segera tiba di lokasi TSI (Taman Safari Indonesia 2).

Sesampainya di lokasi, rombongan disambut oleh perwakilan TSI. Selanjutnya, peserta dipandu untuk mengikuti presentasi yang diberikan pihak TSI. Di sini dijelaskan secara detail, bagaimana satwa – khususnya harimau – untuk menangkap mangsa, melindungi diri dari manusia, hidup berkelompok, dan masih banyak lagi.

Acara dilanjutkan dengan diskusi. Para peserta dibagi dalam 3 kelompok : kelompok harimau, manusia, dan habitat. Diskusi menjadi debat panas, manakala kelompok harimau menuduh manusia itu egois dan perusak. Tak mau kalah, kelompok manusia membela diri dengan menyebut harimau juga andil dalam pembunuhan hewan kecil. Debat akhirnya dihentikan oleh moderator, karena keterbatasan waktu.

Selanjutnya acara yang paling ditungu-tunggu peserta, “Safari Tour” mengelilingi kompleks TSI. Rombongan dipandu oleh 2 guide. Guide tersebut menerangkan perihal fauna yang ada di TSI berikut cara hidupnya. Para peserta juga sangat tertarik dengan fauna yang ada. Terbukti, mereka seringkali meminta sopir bus untuk memperlambat laju atau bahkan berhenti sejenak untuk sekadar mengambil foto hewan yang ada. Saking seringnya berhenti, sempat ada insiden lucu. Contohnya, seekor unta menjulurkan kepalanya ke dalam bus. Contoh lainnya, beberapa burung unta berjalan di tengah jalan bak model. Akibatnya, laju bus seringakali terganggu. Bahkan, Safari Tour menghabiskan waktu hingga 2 jam.

Selesai Safari Tour, rombongan menikmati makan siang yang diberikan, berupa SFC (Safari Fried Chicken). Para peserta menikmati makan di kereta layang. Seselesainya makan, para peserta diajak untuk mengenal lebih dekat harimau. TSI tak lupa membawakan dua ekor anak harimau putih. Sebagian peserta tampak suka mengelus anak harimau yang manja itu, sementara lainnya berfoto bersama.

Kemudian, peserta diajak untuk menonton show harimau sumatra. Di sana disuguhkan tontonan harimau yang sedang memburu mangsa, memanjat hingga ketinggian 5 meter, berenang, dan melewati rintangan-rintangan. Tentu saja, harimau itu tetap harus dijaga oleh keeper masing-masing.

Selesai menonton, para peserta diberika waktu bebas selama 2 jam. Waktu bebas itu dapat dipergunakan untuk menonton show hewan lainnya maupun mencoba wahana permainan TSI yang ada, seperti rumah hantu, jet-coaster, bumper-boat, bom-bom-car, kereta layang, taman reptil, taman ular, taman burung, dan masih banyak lagi.
Sementara itu, para peserta yang memilih menonton show juga tak kalah beruntung. Show pertama yaitu elephant show. Di sana, mereka bisa melihat pertunjukkan kepandaian gajah. Seekor gajah bahkan bisa berdiri di atas pijakan sempit. Penonton juga bisa merasakan sensasi dipijat dengan belalai gajah. Di akhir, penonton juga bisa melihat gajah dari dekat, memegang gajah, atau pun berfoto bersama.

Show yang kedua yaitu show aneka satwa. Dalam show ini, penonton disuguhi sandiwara “Si Anak Rimba” yang berhasil menangkap perusak alam dengan bantuan beberapa ekor anjing dan orang-utan. Show yang ketiga yaitu show burung pembunuh. Para penonton disajikan tontonan bagaimana seekor elang dapat mengintai mangsanya dari kejauhan, mencengkeram mangsanya dalam hitungan detik, dan membawanya ke tempat tinggi. Show yang terakhir dan dan paling menakjubkan yaitu lion show. Para penonton dapat menyaksikan singa-singa melompat melewati lingkaran api, menghindari tembakan pemburu, maupun berlari kencang.

Tak terasa, waktu telah menjukkan pukul 16.30. Tibalah saatnya bagi kami untuk pulang. Wewin – salah seorang peserta yang sedikit nyeleneh – berhasil mengambil beberapa kumbang di pohon untuk dijadikan koleksinya. Agung – peserta lainnya – nyaris ditinggal dan dinyatakan statusnya ‘hilang’.

Dalam perjalanan pulang, sempat ada keanehan kecil. Saat dihitung, jumlah orang di dalam bus melebihi daftar peserta yang ada. Usut punya usut, ternyata seorang penumpang gelap berinisial FPW dari kelas XI-IA 7 mengikuti acara secara ilegal. Akhirnya, rombongan tiba di Sinlui pukul 18.30. Untuk yang terakhir kali, peserta mendapatkan sajian tontonan pertandingan basket seru anatara Sinlui vs Kosayu.

Dalam acara ini, para peserta selain mendapatkan tambahan wawasan, juga mendapatkan pelajaran moral, yaitu semakin cinta dan peduli terhadap satwa.Hal ini sesuai dengan slogan acara ini yaitu : To See – To Smell – To Feel – To Love.
(By : Ricardo)

4 comments:

Anthony Tiono mengatakan...

Lain kali acara sejenis ini harus dilanjutkan lagi, dikemas dalaam acara outbound. Untuk FPW yang telah menjadi penumpang gelap harus dihukum berat. Beri sanksi pula buat wewin, si pencuri kumbang

Anonim mengatakan...

Tolong mulutnya bung antony dijaga... apa maksudnya mengatakan "pencuri kumbang"?

Anonim mengatakan...

Untuk mengambil kembali kumbang yang telah dicuri, dapat dengan menghubungi Wewim Tjiasmanto atau mengunjungi natural-history-collection.blogspot.com

Anonim mengatakan...

buat yg pake nm anthony, tolong jangan menggunakan nama orang sembarangan!